SUBANG | BEWARANEWS.COM | Lautan manusia dan ratusan kapal berhias ornamen warna-warni memadati kawasan pesisir Pantai Utara (Pantura), Kecamatan Blanakan, Kabupaten Subang, Jawa Barat, Minggu (27/09/2026).
Ribuan nelayan yang tergabung dalam Koperasi Jasa Mina Mandiri Fajar Sidik Blanakan* menggelar ritual tahunan Ruwat Laut ke-59, sebuah tradisi megah penuh warna sebagai wujud syukur atas rezeki laut sekaligus doa keselamatan bagi para nelayan.
Suasana semarak dan penuh khidmat terasa sejak dermaga, tempat ratusan perahu berhias aneka makanan dan minuman yang digantung meliuk-liuk tertiup angin laut. Puncak acara ditandai dengan pelepasan Dongdang, miniatur kapal pembawa sesaji utama berupa kepala dan darah kerbau. Diringi konvoi puluhan perahu nelayan, Dongdang dikawal menuju laut lepas sebelum akhirnya dilarung.
Aksi dramatis dan sakral terjadi saat replika kapal dilarung ke tengah samudra. Tanpa ragu, para nelayan saling berebut memburu air laut yang telah bercampur darah kerbau untuk dibalurkan ke seluruh badan perahu mereka. Bagi masyarakat pesisir Pantura, tradisi turun-temurun ini bukan sekadar ritual, melainkan sarana penolak bala agar kapal mereka tangguh menerjang ombak dan selamat saat melaut.
Ketua Koperasi Jasa Mina Mandiri Fajar Sidik, Dasam MB, menegaskan bahwa, pentingnya menjaga warisan budaya ini agar sejalan dengan pemeliharaan lingkungan dan kelestarian alam.
“Ruwat laut ini adalah tradisi turun-temurun sekaligus wujud syukur kami para nelayan atas rezeki yang diberikan Tuhan selama setahun terakhir. Simbol ini sekaligus bentuk menjaga alam, sesuai jargon Jawa Barat ‘JAWARA’Jaga dan Rawat Jawa Barat,” ujar Dasam MB di sela-sela prosesi pelepasan replika kapal.
Harapan serupa dipanjatkan oleh para nelayan yang menggantungkan hidupnya di tengah samudra. Taman, salah seorang nelayan lokal, meyakini ritual ini membawa ketenangan batin saat mengarungi laut lepas.
“Selain bentuk syukur, ritual larung dan melumuri kapal ini kami percaya sebagai simbol penolak bala. Harapan kami simpel: saat melaut diberikan keselamatan, pulang membawa hasil ikan yang banyak, dan terhindar dari marabahaya,” tutur Taman.
Usai prosesi larung sesaji yang penuh riak dan antusiasme, ribuan nelayan kembali ke dermaga dengan tertib dan aman. Mereka pulang membawa secercah harapan agar laut Pantura terus memberikan berkah, hasil melimpah, dan keselamatan bagi keluarga yang menunggu di rumah. (wan/red).



