Berita Terbaru

Post Terkait

Berkaca dari Pengalaman, Jurnalis Ini Gerakkan Aksi Nasi Darurat untuk Mahasiswa Rantau di Subang

SUBANG | BEWARANEWS.COM | Jurnalis di Kabupaten Subang, Annas Nashrullah, menggerakkan aksi sosial Nasi Darurat (NasDar) untuk membantu masyarakat yang mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan pangan.

Aksi yang dijalankan melalui akun Instagram pribadi @BabeMude tersebut berawal dari pengalaman pribadinya saat menjadi pemantau di Jakarta.

Melalui Nasi Darurat, penerima manfaat diberi kebebasan untuk membeli makanan sesuai selera dan kebutuhan masing-masing. Mereka cukup mengirimkan kode QRIS atau informasi pembayaran setelah berbelanja, kemudian Annas membayarkan nominal transaksi tersebut secara langsung.

Selain bantuan makanan, Annas juga membantu pemohon lainnya dalam bentuk sembako, seperti beras, mi instan, dan telur. Mekanismenya serupa, yakni penerima manfaat berbelanja sesuai kebutuhan, kemudian pembayaran dilakukan melalui QRIS.

Annas mengatakan, gagasan Nasi Darurat berangkat dari keinginannya agar kesulitan yang pernah dialaminya tidak kembali dirasakan orang lain, meskipun bantuan yang dapat diberikan masih terbatas.

“Dari pesan-pesan yang masuk, ada penerima manfaat yang mengaku sudah beberapa hari tidak makan. Setelah kami memberikan bantuan, salah seorang dari mereka mengirim pesan, ‘Izin, Kak, saya mau ke warung dulu. Tangan saya sudah gemetar.’ Setelah mendapatkan nasi, dia mengirimkan foto dan meminta izin untuk makan,” kata Annas.

Menurutnya, pesan-pesan yang diterima melalui media sosial menggambarkan kondisi masyarakat yang kesulitan memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari.

“Ada juga seorang ibu yang bercerita bahwa suaminya belum mendapatkan pekerjaan. Sementara itu, dia dan anaknya belum makan sejak malam sebelumnya. Ibu tersebut meminta bantuan untuk membeli beras, mi instan, dan telur,” ujarnya.

Permintaan bantuan Nasi Darurat terus bertambah setiap hari. Pemohon tidak hanya berasal dari Kabupaten Subang, tetapi juga dari Depok, Bogor, Banten, Malang, Semarang, dan sejumlah daerah lainnya.

Latar belakang pemohon pun beragam, mulai dari mahasiswa, ibu rumah tangga, keluarga yang suaminya belum bekerja atau masih menunggu pekerjaan, hingga orang tua yang tinggal bersama anak-anaknya.

Di tengah meningkatnya permintaan, Annas mengaku menerima sejumlah masukan agar lebih berhati-hati terhadap kemungkinan bantuan dimanfaatkan oleh orang yang sebenarnya tidak membutuhkan.

Namun, ia memilih untuk tetap berpegang pada niat awal membantu orang yang meminta pertolongan.

“Memang ada yang mengingatkan saya mengenai kemungkinan tersebut. Namun, ketika seseorang datang meminta bantuan, saya memilih untuk membantu sesuai kemampuan. Soal niat masing-masing, biarlah menjadi tanggung jawab pribadi. Saya hanya berharap rezeki saya dan mereka selalu dilancarkan,” katanya.

Meningkatnya permintaan membuat Annas harus menentukan prioritas penerima manfaat agar aksi sosial tersebut tetap berjalan sesuai kemampuan yang tersedia.

Mulai Selasa (13/10/2026), Nasi Darurat memprioritaskan mahasiswa rantau yang kuliah di kampus wilayah Subang Kota.

Kebijakan tersebut diambil di tengah keterbatasan jumlah bantuan dan nominal yang dapat dialokasikan. Meski demikian, pembatasan sasaran bukan berarti kelompok masyarakat lainnya tidak membutuhkan bantuan.

Mahasiswa rantau menjadi prioritas karena mereka menjalani kehidupan jauh dari keluarga dan harus memenuhi kebutuhan sehari-hari di tengah aktivitas perkuliahan. Ketika kiriman uang terlambat atau kondisi keuangan keluarga sedang sulit, kebutuhan makan dapat menjadi persoalan mendesak.

Melalui aksi tersebut, Annas berharap bantuan sederhana dapat meringankan kesulitan penerima manfaat sekaligus menjaga semangat kepedulian sosial di tengah keterbatasan. (wan/red).

Popular Articles