SEMARANG | BEWARANEWS.COM | Perjuangan pembalap muda berbakat asal Subang, Al Jabbaar bersama DRF Racing Team pada Grand Final Kejurnas Motoprix di Sirkuit Mijen, Semarang, berlangsung penuh drama dan perjuangan.
Persoalan mesin yang belum kunjung teratasi sejak sesi latihan hingga kualifikasi (QTT) membuat pembalap muda tersebut harus berjuang ekstra keras sepanjang akhir pekan balapan.
Al Jabbaar sudah bertolak ke Semarang sejak Rabu untuk menjalani latihan sekaligus beradaptasi dengan karakter Sirkuit Mijen yang baru pertama kali dihadapinya. Di tengah padatnya aktivitas sebagai siswa kelas 7D SMPN 1 Subang, Al Jabbaar harus membagi waktu antara kewajiban sekolah, latihan fisik, dan persiapan balapan.
Pada sesi latihan hari Rabu, hasil yang cukup menjanjikan berhasil ditorehkan. Al Jabbaar mampu mencatat laptime yang cukup kompetitif untuk kelas Beginner. Namun, kondisi tersebut tidak berlanjut pada sesi latihan Kamis dan Jumat.
Motor yang ditungganginya justru mengalami sejumlah kendala sehingga membuat Al Jabbaar kesulitan berkonsentrasi dan tidak dapat menjalani latihan secara maksimal.
Masalah tersebut bahkan masih berlanjut hingga sesi QTT pada race day pertama. Kondisi motor yang belum sepenuhnya optimal membuat Al Jabbaar gagal menembus catatan waktu terbaiknya dan harus memulai balapan dari grid ke-16.
Dalam situasi waktu yang sangat terbatas, mekanik Mo2k bersama AU DRF Performance terus bekerja dan memutar otak untuk mencari solusi atas persoalan motor.
Di tengah situasi tersebut, dukungan juga datang dari owner Tridjaya Motor Pagaden melalui sambungan telepon yang memberikan semangat langsung kepada Al Jabbaar agar tetap percaya diri menghadapi balapan di Sirkuit Mijen.
Semangat tersebut akhirnya terbayar di race pertama. Meski harus mengawali balapan dari posisi ke-16, Al Jabbaar mampu menunjukkan daya juangnya dengan terus memperbaiki posisi hingga akhirnya finish di posisi ke-11. Lebih menggembirakan lagi, Al Jabbaar berhasil mencatatkan best time tercepat ketiga pada race tersebut.
Memasuki race kedua pada hari berikutnya, modal catatan waktu terbaik dari race sebelumnya membuat Al Jabbaar tampil lebih percaya diri. Start yang bagus membuatnya mampu menyodok hingga posisi ke-8.
Namun, drama kembali terjadi. Memasuki lap keenam, tepatnya pada lap ke-5 menurut pencatatan race, Al Jabbaar terlibat insiden setelah ditabrak pembalap lain. Motornya kemudian tertindih motor rider lain sehingga membuatnya tidak dapat melanjutkan balapan.
Beruntung, Al Jabbaar tidak mengalami cedera yang signifikan.
Dengan berakhirnya Grand Final tersebut, perjalanan Al Jabbaar bersama DRF Racing Team pada Kejurnas Motoprix musim ini juga tuntas. Setelah melewati empat seri, Al Jabbaar berhasil menempati posisi ke-9 klasemen nasional kelas Beginner.
Hasil tersebut tentu belum menjadi pencapaian yang diharapkan. Namun, Al Jabbaar telah menunjukkan konsistensi dengan menyelesaikan seluruh rangkaian balapan dan mendapatkan pengalaman berharga di musim perdananya.
“Belum bisa memberikan yang terbaik, tetapi Al Jabbaar sudah berjuang sampai akhir. Masalah motor menjadi tantangan besar sejak latihan hingga race. Terima kasih kepada seluruh tim, mekanik, Tridjaya Motor Pagaden, AU DRF Performance, dan semua pihak yang terus memberikan dukungan,” demikian semangat yang mengiringi perjalanan Al Jabbaar bersama DRF Racing Team.
Musim boleh berakhir, tetapi perjuangan belum selesai. Dari Mijen, Al Jabbaar membawa pulang bukan hanya hasil, tetapi juga pengalaman untuk kembali lebih kuat di musim berikutnya. (wan/red).



